Skip to main content

Sutarmidji Minta Seluruh Siswa Naik Kelas, Dikarenakan Tidak Ada Sekolah Tatap Muka Hingga 13 Juli

Gubernur Kalbar, Sutarmidji memastikan tidak ada sekolahan tatap muka hingga 13 Juli mendatang.

Belum diperbolehkannya sekolah tatap muka ditegaskan Sutarmidji untuk menjaga anak-anak atau peserta didik dari tertularnya virus corona atau Covid-19.

Saat ini, ia meminta seluruh sekolah yang ada di Kalbar berkaitan dengan ekstrakulikuler jangan dipaksakan dulu.

"Saya pastikan sampai 13 Juli di Kalbar belum ada sekolah tatap muka. Meskipun arahan dari pusat tahun ajaran baru dari 23 Juni - 13 Juli," ucap Sutarmidji, usai membuka Seminar Menuju Normal Baru di Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalbar, Sabtu (6/6/2020).

Alasan tidak diperbolehlannya sekolah tatap mula hingga 13 Juli mendatang.

Menurut Sutarmidji adalah cukup sulit mempersiapkan sekolah dengan pola atau untuk mengajarkan anak-anak beradaptasi dengan tatanan baru.

"Mempersiapkan di sekolah yang sulit. Ini harus diperhatikan betul kita harus menjaga anak-anak kita. Saya pastikan sekolah di kota fasilitas yang dibutuhkan bisa dipenuhi, tapi untuk daerah belum tentu," tambah Sutarmidji

Bahkan menurutnya ada kepala daerah, bupati yang ingin membuka sekolah saat ini. Namun ia melarang terlebih dahulu karena alasan menjaga kesehatan peserta didik.

"Risiko terlalu besar jika membuka sekolah sekarang ini. Perhatian sangat serius kita lakukan pada bidang pendidikan ini, karena kita harus melindungi anak-anak kita," ucapnya.

Selain itu, ia juga meminta pada jajaran dinas pendidikan serta pihak sekolah untuk menjaga psikologis anak.

Jangan sampai situasi yang ada saat ini malah membuat mereka tidak nyaman.

"Saya sudah berpesan pada jajaran dinas pendidikan jaga psikologis anak. Kalau boleh naikan kelas semua anak-anak," kata Mantan Wali Kota Pontianak dua periode ini.

Ia juga menjelaskan akan melakukan sinkroninsasi antara pendidikan tatap muka dan melalui internet.

"Pokoknya perhatian yang paling khusus itu dibidang Pendidikan," ungkapnya

Pada kesempatan itu pula Gubernur Kalbar Sutarmidji, menerangkan agar pemerintah pusat memperhatikan penerapan new normal.

Ia menegaskan jika dilakukan penerapan new normal, maka harus disamakan pemahaman atau persepsi dari pusat hingga daerah.

Pasalnya ini berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat serta perilaku hidup sehat.

Protapnya cukup dari kementerian kesehatan saja. Jangan adalagi protap yang dibuat oleh kementerian lainnya.

"Untuk di Kalbar kita terus persiapkan dengan melihat data dan perkembangan kasus. Apabila terjadi peningkatan maka kembali pada pengetatan. Kita setiap hari melihat perkembangan data-data yang ada, kita tidak melepas begitu saja," tegasnya.

Pemahaman mengenai new normal ditegaskannya kembali harus disamakan dari pemerintah pusat hingga daerah.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar