Skip to main content

Yang Penting Pekerja Selamat, Perusahaan Rugi Tak Apa

Tidak mudah menjalankan usaha di masa pandemi Covid-19, apa pun bidang bisnisnya.

Omzet berbagai perusahaan pun turun bebas. Satu per satu perusahaan runtuh. Bahkan, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana.

Penurunan omzet, dirasakan juga oleh Ronny Lukito, CEO PT Eigerindo MPI yang memiliki sejumlah produk tas dan aksesoris asal Bandung, seperti Eiger, Bodypack, dan Exsport.

Sejak Pemerintah mengumumkan kasus pertama virus corona di Indonesia, omzet MPI langsung merosot. Maret 2020, pencapaian perusahaan itu hanya 79 persen dari target.

Pada April saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai diberlakukan di beberapa tempat, pencapaian perusahaan itu hanya 37 persen.

Lalu, di bulan Mei 2020, tercapai sebanyak 60 persen dari target.

Di masa-masa seperti ini, Ronny mengaku terus berpikir keras. Ia meminta seluruh leader di perusahaan tersebut untuk mengefisiensi hal-hal yang memungkinkan.

“Perusahaan rugi tak apa, yang penting keluarga selamat, keluarga seluruh pekerja selamat. Setelah selamat, bantu perusahaan untuk bertahan,” ungkap Ronny.

Ronny mengaku percaya, pandemi ini terjadi atas seizin Tuhan. Pasti Tuhan tidak akan diam dan suatu hari nanti bisa dipetik manfaat dari kondisi sekarang.

Rapid test

Demi memastikan kesehatan para pekerjanya, ia pun menggelar rapid test hingga dua kali.

Harga sekali rapid test per satu orang Rp 600.000. Bila ditotal, anggarannya menghabiskan Rp 1,5 miliar.

“Bagian keuangan bilang, anggaran rapid test Rp 1,5 miliar. Saya kaget, mahal juga ya. Yang penting tim selamat dulu. Saya bilang, cairkan deposito saya,” tutur Ronny.

Ronny berkeyakinan, semua manusia di mata Tuhan sama, ciptaan yang mulia. Ia akan berjuang agar semua pegawainya selamat secara kesehatan mau pun finansial.

Hasilnya, 4.500 karyawannya negatif Covid-19. Meski perusahaan merugi, ia tetap membayar gaji karyawan seperti biasa.

Hingga baru-baru ini, bagian keuangan memberikan warning berulang kali.

“Mereka bilang, perusahaan, bleeding-nya sudah terlalu parah,” kutip dia.

Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan pemotongan gaji tingkat manajer ke atas sebesar 15 persen.

Namun, pemotongan tersebut akan dicatat dan dijadikan utang perusahaan. Setelah kondisi membaik, manajemen segera membayar utang tersebut.

Ia pun menekankan pembayaran tepat waktu untuk para mitra. Saat ini, ada ribuan orang di industri kecil yang bermitra dengan Eiger.

“Jika ditambah dengan mitra, jumlah (pegawai) mencapai 10.000 orang,” ungkap Ronny.

Bantuan

Meski perusahaan merugi, Ronny tetap menyalurkan dana CSR Eiger.

Selain bantuan ribuan alat perlidungan diri ( APD), Eiger membagikan 5.000 kilogram beras kepada 1.000 kepala keluarga masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

MPI juga melakukan penyemprotan disinfektan gratis di lingkungan desa sekitar pabrik PT Eigerindo MPI.

Lalu, masih ada gerakan "1 Juta Liter Disinfektan", bekerjasama dengan Vertical Rescue Indonesia untuk 33 kecamatan se-Bandung Raya.

Tak hanya itu, MPI pun memberikan bantuan lima kilogramberas per bulan untuk empat RW.

Akibat kondisi Indonesia belum membaik, bantuan beras saat ini berubah menjadi bantuan sembako.

“Saya optimistis kondisi ini akan membaik. Eiger bisa bertahan sampai sekarang karena pertolongan Tuhan dan doa banyak orang,” imbuh dia.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar